Gen Z Jangan Hanya Jadi Penonton, Bawaslu Pamekasan Ajak Anak Muda Rawat Demokrasi dari Ruang Terdekat
|
Pamekasan, 15 September 2026 — Demokrasi tidak selalu harus dibicarakan di ruang formal. Secangkir kopi, obrolan santai, dan keberanian untuk saling mendengarkan juga bisa menjadi ruang untuk merawat demokrasi.
Semangat itulah yang dibangun Bawaslu Kabupaten Pamekasan melalui Konsolidasi Demokrasi bersama Gen Z yang digelar di Cafe Indigo, Jalan Bonorogo, Pamekasan, Selasa (15/9/2026).
Ketua Bawaslu Kabupaten Pamekasan, Sukma Firdaus, berdiskusi langsung dengan sekitar 20 generasi Z yang mayoritas merupakan mahasiswa di Pamekasan. Selama kurang lebih satu setengah jam, diskusi berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, membahas bagaimana anak muda dapat mengambil peran dalam menjaga demokrasi di tengah masyarakat yang penuh keberagaman.
Bagi Sukma, demokrasi bukan tentang bagaimana semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Sebaliknya, demokrasi justru membutuhkan ruang agar perbedaan dapat hadir, dihormati, dan dikelola secara dewasa.
“Bukan menyatukan atau menghilangkan perbedaan dan keberagaman, namun menjembatani perbedaan dan keberagaman itu sebagai kekayaan dan kekuatan pada bangsa ini,” ujar Sukma.
Menurutnya, Indonesia dibangun dari keberagaman yang sangat luas, mulai dari budaya, adat-istiadat, perilaku hingga agama. Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi mempertentangkan satu dengan lainnya.
Justru, perbedaan perlu dijembatani melalui komunikasi dan musyawarah.
Setiap persoalan, lanjut Sukma, dapat dibicarakan bersama dengan duduk satu meja, saling mendengarkan, bertukar pandangan, dan mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama atau win-win solution.
Gen Z Punya Peran Besar
Generasi Z bukan hanya generasi yang akrab dengan teknologi dan media sosial. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, mereka juga memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan dan perilaku demokratis di lingkungan sekitarnya.
Karena itu, Sukma mendorong Gen Z untuk menjadi bagian dari proses tersebut. Tidak harus menunggu menjadi pejabat, politisi, atau penyelenggara pemilu untuk berkontribusi terhadap demokrasi.
Dimulai dari lingkungan kampus, organisasi, keluarga, pertemanan, hingga ruang digital.
Menghargai pendapat yang berbeda, tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, serta membiasakan dialog ketika terjadi perbedaan merupakan bentuk sederhana dari praktik demokrasi.
“Anak muda adalah harapan bangsa. Gen Z memiliki peran krusial sebagai agen penyemangat dan penggerak perilaku demokratis di masyarakat,” kata Sukma.
Menurutnya, Gen Z memiliki keunggulan karena berada di antara dua dunia: membawa inovasi dan cara berpikir baru, sekaligus tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Bawaslu Pamekasan memandang keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun budaya demokrasi yang sehat dan inklusif.
Sebab, tantangan demokrasi ke depan bukan hanya bagaimana masyarakat menggunakan hak pilihnya, tetapi juga bagaimana setiap warga mampu hidup bersama di tengah perbedaan.
Karena demokrasi yang kuat bukan lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang mampu berjalan bersama.
Humas Bawaslu Pamekasan
Penulis dan Foto : Adi
Editor : Sam